![]() |
| Oleh: Pepih Nugraha |
Di status Facebook, saya paling getol menghantam dan mengganyang pelaku korupsi, meski lewat senjata kata-kata. Tidak peduli dia dari partai apa, agama apa, pejabat siapa, dan suku mana. Saya biasa menerakan hashtag #corruptshit sebagai olok-olok yang maknanya bisa ditebak. Saya memang benci koruptor, benci pelaku korup, sehingga saya anggap koruptor yang telah menggasak uang rakyat itu tidak ubahnya sebagai s**t. Anda boleh protes, tetapi begitulah sikap saya.
Saya ikuti terus gerak-gerik KPK sebagai lembaga antirasuah yang kali ini sangat tanggap terhadap temuan segelintir oknum PKS yang diduga melakukan praktik korup atas rencana penambahan kuota daging sapi impor. Akan tetapi yang mencengangkan, setidak-tidaknya mencengangkang saya pribadi, adalah proses hukum yang diberlakukan terhadap petinggi PKS itu yang tergolong cepat. Lutfi Hassan Ishaq dan Ahmad Fathanah serta beberapa pengusaha importir yang menjadi tersangka, langsung ditahan dan disidangkan. Maharany dan Hilmi dijadikan saksi, termasuk Presiden PKS Anis Matta.
Saya harus bilang salut-salut saja terhadap kerja dan kinerja KPK yang cepat itu, karena memang begitulah seharusnya. Rakyat ingin segera tahu dan mendapat kepastian, di mana gerangan letak korupsi yang disangkakan kepada PKS. Orang-orang PKS dan simpatisannya juga ingin segera mengetahui hasilnya, sebab dalam pandangan mereka, tidak ada uang negara yang dikorupsi oleh PKS. Dengan demikian, apa definisi korupsi di mata KPK sehingga publik segera tahu; oh di situ toh salahnya Lutfi dan Fathanah, oh ya… pantaslah kalau mereka dihukum sesuai undang-undang. Saya, walaupun bukan orang PKS, tetap ingin tahu hasilnya… oh begini toh, dan seterusnya.
Namun jujur, ada yang mengganjal dalam hati dan pikir saya tatkala memutar jarum ingatan ke belakang yang belum lama terjadi. Bahwa, beberapa bulan sebelum ramai-ramai PKS yang dalam berita di Jakarta Post kemarin ditulis “Sex, Lies and the PKS” terkena kasus, KPK sudah jauh-jauh hari menetapkan petinggi Partai Demokrat (PD) sebagai tersangka, yakni Menpora Andi Alifian Mallarangeng dan (mantan) Ketua Umum Anas Urbaningrum. Berbeda dengan petinggi PKS yang sudah langsung ditetapkan tersangka lalu tidak lama kemudian digelar persidangan di pengadilan Tipikor, terhadap kasus Hambalang yang menimpa petinggi PD, hilang seperti bayang-bayang, menguap seolah-olah tanpa bekas. Wajarlah kalau saya bertanya-tanya dalam hati; adakah perlakuan KPK yang berbeda terhadap PKS dan PD?
Timbul purbasangka dalam diri; jangan-jangan KPK tidak punya atau kurang cukup punya nyali dalam memberantas korupsi yang dilakukan sejumlah elite partai berkuasa? Jangan-jangan jika Anas Urbaningrum disidangkan, ia akan membocorkan semua orang yang menerima duit Hambalang, termasuk oleh lingkaran Istana dan keluarga Presiden. Kita diingatkan kembali, Ibas pernah disebut-sebut menerima uang Hambalang dan ada bukti yang sempat beredar, meski tentu saja Ibas membantahnya. Bisa jadi Anas dalam sidang tidak hanya menyebut Ibas, tetapi menyebut keluarga SBY lainnya dalam kasus Hambalang. Bukankah jika ini terjadi akan mengguncang stabilitas negara?
Apakah karena alasan ini KPK menjadi takut dan berusaha menunda-nunda proses hukum terhadap para tersangka korupsi di PD? Mengapa tersangka PKS langsung ditahan sementara tersangka PD bisa lenggang-kangkung ke mana ia suka, termasuk melancong ke Bali? Tidakkah ini bentuk diskriminasi hukum yang nyata-nyata dilakukan KPK terhadap sesama tersangka? Bagaimana KPK menjelaskannya kepada publik tentang hal ini? Jangan-jangan kalau para tersangka dibiarkan berkeliaran, mereka cukup waktu untuk membuat manuver-manuver, misalnya menghilangkan bukti-bukti. Apakah kemungkinan ini luput dari antisipasi KPK?
Saya kira, KPK harus menunjukkan kepada publik satu bentuk keadilan yang berlaku sama buat semua, tidak pilih-kasih dan tebang pilih. Publik sangat menghargai dan mendukung kerja serta kinerja KPK sebagai lembaga antirasuah yang disegani. Namun demikian, publik juga harus diberi satu pehamaman yang bisa diterima akal sehat, bahwa apa yang dilakukan KPK adalah suatu proses hukum yang adil bagi para tersangka koruptor, baik dari PD, PKS, Golkar, PDIP, atau partai-partai lainnya. Dengan demikian, KPK tidak terkesan tebang-pilih dalam melakukan proses hukum, sebagaimana perbandingan terhadap PKS dan PD.
Sebagai teman Ketua KPK Abraham Samad (semasa bertugas di Makassar 2002-2004 kami teman makan dan jalan), saya bisa saja menelepon yang bersangkutan atau setidak-tidaknya berkirim SMS menanyakan tentang hal ini. Tetapi, rasanya saya tidak harus menempuh jalur kedekatan ini untuk sekadar ingin tahu secara pribadi. Lebih baik dikemukakan saja kepada publik seperti ini, biar menjadi pembelajaran bersama.
Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2013/05/21/kpk-dikesankan-cuma-obok-obok-pks-pd-manaaaa-557933.html
*) Pepih Nugraha adalah jurnalis dan penulis yang telah bergabung di Harian Kompas sejak 1990.
![]() |
| Oleh: Jaharuddin |
Beberapa hari ini, berita tentang PKS dimedia kembali menghangat, lanjutan dari episode sinetron kasus LHI, semakin menarik karena salah seorang artis dipaksakan untuk dikaitkan, akhirnya semakin seksi untuk dikomentari. Saya mengikuti berita melalui media online, dan juga ikut membaca beberapa komentar dibawahnya, pro dan kontra muncul, bahkan ada yang berkomentar bahwa perlu diwaspadai PKS melakukan cuci otak terhadap kader-kadernya, karena kader-kader PKS diduga semakin militan saat pimpinannya ditangkap dan dizhalimi.
Entah mengapa, saya agak terusik dengan frasa “cuci otak” ini, padahal saya bukan siapa-siapanya PKS, bukan pengurus PKS, cuma simpatik berat dengan PKS, karena kader-kadernya sejak awal kuliah membina saya. Saya mendapatkan pencerahan dan manfaat yang sangat besar, ketika Allah mempertemukan saya dengan para kader PKS. Semoga saya dan keluarga bisa istiqomah, berjuang dalam barisan orang-orang yang mengutamakan Cinta, Kerja dan Harmoni ini. Amin ya robbil alamin.
Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya dan keluarga merasakan otak saya dicuci oleh kader-kader PKS, sehingga buta mata hati dan fikiran serta membela membabi buta ketika PKS dipojokkan, pimpinannya ditangkap, dibully dimedia, dan seterusnya.
Untuk menjawabnya, izinkan saya bercerita pengalaman saya dengan kader-kader PKS wabil khusus pertemuan-pertemuan saya dengan pengajian-pengajian dan acara-acara yang diadakan oleh kader-kader PKS. Sejak awal kuliah, saya ikut proses pembinaan yang diadakan rutin setiap pekan, sesekali diadakan Dauroh (pelatihan) dengan berbagai tema, dan juga dilibatkan dalam mengelola beberapa aktivitas dakwah, Saat itu belum ada partai.
Begitu telatennya mereka membina kami, setiap pekan didatangi, diberi arahan, dibantu kuliahnya, dibantu mencarikan rumah, dibantu dalam segala urusan, bahkan jika uang kiriman dari orang tua terhambat, hal ini juga bisa dikonsultasikan ke murobbi (pembina).
Saya punya pengalaman unik, murobbi saya pernah mendatangi saya ke kost-kostan pada jam sholat shubuh (sebenarnya dia baru pulang dari masjid sholat shubuh berjama’ah), padahal rumahnya berlawanan arah dengan rumah saya dari masjid. Sepertinya dia tidak melihat saya sholat shubuh berjama’ah di masjid, maka dia mengecek saya ke rumah. dan apa yang terjadi?…saya gelagapan , karena masih tertidur, jadi belum sholat shubuh…:) :(
Begitulah, salah satu cara mereka dalam membina kami, agar kami sholat shubuh berjama’ah di masjid, atau paling tidak sholat diawal waktu, dengan cara yang tepat mengajak kami untuk melakukan amal sholeh. Ada pula program tahajud call, dimana sekitar jam 02.00 malam, kami satu persatu ditelepon oleh murobbi kami, atau teman sekelompok pengajian untuk dibangunkan agar mudah melaksanakan sholat tahajjud.
Ada pula, ifthor jama’i (berbuka puasa bersama) pada hari Senin dan Kamis, agar kami terbiasa melaksanakan sunnah, ada pula bertukar hadiah, tadabur alam, rihlah (wisata), outbound, olah raga …..itu semua dalam kerangka mentadaburi ayat-ayat Allah yang terhampar dimuka bumi ini.
Dari Jambi saya merantau ke Bogor, proses merantau inipun dikonsultasikan ke murobbi, sehingga bisa diberikan masukan konstuktif untuk kebaikan bersama, saya dibekali surat mutasi, sehingga saat sampai di Bogor sudah ada yang menunggu dan menjemput, dan ajaibnya seolah-olah kita berdialog, berinteraksi seperti orang yang sudah kenal lama, dan selanjutnya saya ditempatkan kembali dalam grup pengajian yang telah ditentukan. Budaya yang dulu saya dapatkan, juga saya temukan di Bogor, kami diminta aktif dikampus, mengelola dakwah, mengorganisasi aktivitas mahasiswa, asrama, masjid, dll.
Dari Bogor saya pindah ke Jakarta. Saya kembali dibekali surat mutasi sehingga langsung bergabung dengan teman-teman di Jakarta. Meneruskan budaya yang sama dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. Saat di Jakarta ini pulalah, ada kenangan special yang tidak bisa dilupakan, dimana murobbi saya membantu dengan sepenuh hati (moril dan materil) proses pernikahan saya, padahal saya adalah anak perantauan dari Riau yang tidak mempunyai keluarga di Jakarta. Namun, percaya atau tidak, teman-teman grup pengajian saya mengurusi pernikahan saya, seolah-olah saya, adalah saudara kandung mereka, sampai akhirnya proses pernikahan berjalan lancar.
Di Jakarta saya bekerja, menikah, mempunyai anak-anak dan menetap sekitar 9 tahun, dan sampai pada episode selanjutnya, kami sekeluarga merantau ke Jerman. dari Jakarta kami dibekali selembar surat “sakti” yang sudah saya rasakan saktinya ketika pindah ke Bogor dan Jakarta. Ternyata hal yang sama juga saya rasakan ketika pindah ke Jerman, surat sakti tersebut, benar-benar sangat sakti dan membantu adaptasi kami dinegeri orang yang jauh dari keluarga dan muslim adalah minoritas.
Kami diterima seperti keluarga yang sudah lama tidak bertemu, kami dibantu urusan visa, rumah, sekolah anak-anak, studi dan semua aspek diurus, dan mereka ini adalah kader-kader PKS. Jadi, kalau ada orang yang berpandangan tidak relevan PKS disebut sebagai partai dakwah, saya dan keluarga sudah membuktikan dan merasakan bahwa politik bagi PKS hanya bagian dari aktivitasnya, dan jauh lebih banyak urusan lainnya yang juga dikelola dengan baik dan konsisten oleh PKS. bahkan ketika kami sudah mempunyai anak-anak, ada panduan yang dibuat dengan matang tentang pendidikan anak-anak, yang diberi nama Tarbiyah Anak Kader, Proses pembinaan yang dirancang agar anak-anak menjadi pribadi yang sholeh, cerdas dan bermanfaat bagi orang tuanya, bangsa dan agamanya.
Singkat cerita PKS mengurusi sejak dari anak-anak, remaja, dewasa, menikah, punya anak, sampai meninggalpun juga diurusi oleh kader-kader PKS. Coba partai mana yang mempunyai bidang khusus yang mengurusi pernikahan, keluarga dan anak-anak para kadernya, serta anak-anak muslim lainnya.
Kembali pada topik, benarkah PKS melakukan cuci otak?
Coba anda tarik sendiri kesimpulan, dari cerita saya diatas, apakah saya dan keluarga dicuci otaknya?, kalau kita mau berkata jujur, terlihat dengan jelas, tidak ada proses cuci otak, yang ada adalah jiwa-jiwa kami dicuci dari kejelekan, dan diajak untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dengan rasa cinta, dilayani secara konsisten oleh kader-kader PKS. Bisa jadi awalnya kami ikut-ikutan, atau terbawa oleh lingkungan, namun seiring dengan waktu, kami sadar inilah jalan yang baik dan benar, bahkan kami juga ingin menyebarkan cinta-cinta kami kepada semakin banyak orang, untuk ikut dalam pengajian-pengajian kami, agar kami bisa berbagi cinta kepada khalayak ramai, sehingga kami memimpikan orang-orang yang cerdas yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anak bangsa, dan muslim yang baik.
Saya merasakan proses pembinaan yang dilakukan oleh kader PKS adalah proses menjadikan orang-orang yang cerdas semakin cerdas, dianjurkan semakin banyak membaca, semakin banyak tahu, dan saya melihat langsung kader-kader PKS banyak sekali yang berpendidikan tinggi, apalagi di Jerman, rata-rata mereka adalah mahasiswa mulai dari S1 sampai S3, ada yang bekerja secara profesional dengan disiplin ilmu yang dalam dan specifik, bahkan banyak dari mereka adalah orang-orang yang sangat beprestasi dibidangnya masing-masing.
Saya ikut dalam pengajian-pengajiannya mereka, saya melihat mereka rela merogoh kantong untuk membiayai dakwah mereka, juga mengalokasikan waktu akhir pekan mereka untuk ikut pengajian, mengelola masjid, mengelola pengajian kota, mengisi pengajian , rapat, dauroh, dan seabrek kegiatan dakwah dan sosial lainnya, dalam rangka memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.
Pengajian-pengajian di Jerman, tidak mudah dilaksanakan layaknya di Indonesia, saya pernah diajak seorang sahabat untuk ikut pengajian, dan ternyata antar kota, saya tinggal di Hannover (bagian baratnya Jerman), dan ternyata saya diajak ikut pengajian di kota Dresden (bagian timurnya Jerman), yang berjarak 373 km dari kota saya, atau kalau naik kereta ekonomi, lama perjalanannya sekitar +/- 7 jam perjalanan sekali perjalanan, dan ternyata lagi, mereka datang ke Dresden, bukan hanya dari Hannover, tapi juga ada dari kota lainnya, seperti Berlin dan Erfurt. Pengajian ini mereka adakan setiap dua pekan, mereka rutin bertemu, dengan biaya sendiri.
Saya juga pernah diikutkan dalam dauroh se-Eropa yang diadakan disalah satu kota di Jerman, pesertanya dari beberapa negara di Eropa, panitia menyewa hotel untuk tempat acara dan penginapan, dan belakangan saya baru tahu, panitia merogoh kantongnya lebih dari 9.000 euro (+/- Rp. 108jt). Dari mana mereka dapatkan uang sebesar itu?, ternyata para kader yang sudah bekerja diminta pengorbanan hartanya, sebagian dari gaji mereka diinfaqkan untuk dakwah, salah satunya untuk dauroh ini. Termasuk juga mengongkosi sebagian student yang tidak bisa ikut acara karena tidak ada ongkos.
Coba anda bayangkan, mungkinkah mereka, para Associate Profesor, calon profesor, doktor, master dan orang-orang cerdas ini, bergerak karena otaknya sudah disalah gunakan PKS?, anda sendiri yang bisa menjawab, bahkan saking semangatnya mereka, saya pernah mendengar kata-kata “PKS itu hanya wajihah/kendaraan”, kalaupun PKS dibubarkan, atau dibekukan, dakwah kami tetap berjalan, dan tidak akan memudar”.
Begitulah semangat mereka dalam berdakwah, walaupun muslim minoritas di Jerman, dan terpisah-pisah antar kota, namun mereka, karena cintanya kepada Allah dan Rasulullah SAW, mereka terus bergerak seolah-olah tidak pernah capek, untuk menyebarkan cinta kepada ummat muslim dimanapun berada.
Jadi, kalau anda percaya kader-kader PKS telah dicuci otaknya, bisa jadi benar, PKS telah mencuci hati-hati para kadernya, sehingga Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, telah mengerakkan hati dan fisik mereka untuk bekerja, memberi cinta dan mengidamkan terjadinya pribadi, keluarga, lingkungan, masyarakat, negara bahkan dunia yang harmoni, jiwa-jiwa yang selamat dunia dan akhirat.Amin ya robbil alamin.
Hannover, Musim bunga (Cinta) di Jerman, 5052013
Sumber: http://politik.kompasiana.com
![]() |
| Oleh: KH. Hilmi Aminuddin |
PKS Taktakan - Ikhwan dan akhwat fillah saya ingin mengingatkan, bahwa untuk meraih kemenangan demi kemenangan, kita harus menjaga lima syarat untuk meraih kemenangan. Sebab kemenangan itu diberikan oleh Allah SWT. Wa man nashru illa min 'indillahi 'azizil hakim.
Lima syarat untuk meraih kemenangan ini adalah:
Pertama, kita harus mempunyai al-qiyam tastahiqun najah. Nilai-nilai yang membuat kita berhak meraih kemenangan (winning value).
Kedua, harus mempunyai manhaj. Al-Manhaju yastahiqqun najah. Memiliki konsep yang membuat kita berhak meraih kemenangan (winning concept).
Ketiga, an-nizham yastahiqqun najah atau winning system. Sistem, produk-produk regulasi, aturan-aturan, keputusan-keputusan, mekanisme dan prosedurnya membuat kita berhak meraih kemenangan.
Keempat, al-jama'atu yastahiqqunnajah. Jama'ah kita harus menjadi jama’ah yang berhak mendapatkan kemenangan. Jangan sampai menjadi jama’ah yang musyattatah (berpecah belah); jangan sampai menjadi jama’ah seperti yang disebutkan oleh Allah ta'ala, tahsabuhum jami'a wa qulubuhum syatta, "Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah." Naudzu-billahi min dzalik. Sehingga la yastahiqqun najah, tidak berhak meraih kemenangan. Jangan sampai menjadi jama’ah yang tidak berpadu. Artinya kita harus mempunyai winning team. Tim yang berhak menerima kemenangan.
Kelima, al-ghayatu tastahiqqun najah. Tujuan dan sasaran yang membuat kita berhak mendapatkan kemenangan (winning goal). Sebab kadang-kadang orang membuat target-target demikian ambisius, sehingga jauh panggang dari api untuk diraih. Biasanya karena ghurur, karena sombong, karena lupa diri, karena menganggap enteng. Lalu membuat target-target yang demikian besar, demikian ambisius, demikian bombastis, yang tidak sesuai dengan sunnah kauniyah dari tahapan perjuangannya.
Jadi kalau disingkat untuk mencapai kemenangan itu diperlukan 5W: Winning Value, Winning Concept, Winning System, Winning Team, dan Winning Goal. Dari sisi manajemen saya harapkan kita dapat mengevaluasi kerja dan kinerja dakwah dari sisi 5W ini. Apakah nilai-nilai yang kita anut, penyikapan kepada nilai yang kita anut, atau istiqamatul mabda' (keistiqamahan pada prinsip) masih utuh? Kita masih istiqamah 'alal mabda' atau tidak? Sebab itu adalah merupakan winning value.
Masihkah kita istiqamah dalam aqidah kita? Masihkah kita istiqamah dalam fikrah kita? Masihkah kita istiqamah dalam minhaj kita? Itu semua merupakan winning value. Silahkan kita evaluasi.
Yang kedua winning concept. Sudah tentu konsep dasar adalah al-Qur'an dan sunnah. Manhaj 'amali-nya adalah manhaj jama’ah dakwah kita. Apakah kita konsisten terhadap dua konsep dasar dan konsep 'amali tadi? Itu juga harus kita lihat.
Yang ketiga winning system-nya, apakah sistem organisasi kita pantas untuk meraih kemenangan. Ini harus kita nilai. Apakah sistem kita terlalu kegedean atau longgar sehingga ribet. Atau sistem kita terlalu sempit sehingga susah melangkah. Ini kita nilai. Apakah nizham yang kita miliki merupakan winning system!
Yang keempat adalah winning team. Tim secara umum adalah jama’ah dakwah kita. Apakah jama'ah kita merupakan tim 'amal jama'i yang berhak meraih kemenangan. Yaitu tim amal jama'i yang konsisten, solid, dinamis. Tim amal jama'i yang istiqamatul mabda (istiqomah memegang prinsip), mataanatu tanzhim (soliditas struktur), hayawiyatul harakah (gerakan yang dinamis).
Yang kelima adalah al-ghayah wal ahdaf tastahiqqun najah. Yaitu winning goal. Apakah sasaran, target-target yang kita tentukan itu walaupun sangat ideal, indah dibaca logis, realistis, terlalu besar atau tidak? Terlalu ambisius atau tidak?
Mengoreksi tidaklah haram. Mengoreksi hasil disiplin nilai, konsep, sistem, dan tim merupakan keharusan. Sesuai dengan definisi istiqamah yang disebutkan oleh Sayyid Qutb rahimahullah, "Al-Istiqaamatu hiya al-i'tidaalu wa al-mudhiyyu 'ala al-manhaji duuna inhiraafin." Istiqamah adalah lurus, konsisten, i'tidal dan terus berjalan tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan.
"Wa huwa fii haajatin ila al-yaqzhati ad-daa-imati." Dan istiqamah itu selalu menhajatkan, selalu membutuhkan kesiagaan yang kontinyu.
"Wa attadabburi addaa-imi wa attaharri addaa-imi li hududi atthariiqi wa dhabti al-infi'alaati al-basyariyati allati tamiilu al-ittijaaha qaliilan aw katsiiran."
Merenung dan evaluasi secara terus menerus. Bahkan mewaspadai, meneliti akan batas-batas jalan, batas-batas syar'i, batas-batas kewajaran, batas-batas kemampuan, batas-batas peluang dalam perjalan dakwah kita, dan mengendalikan emosi-emosi kemanusiaan kita. Kadang-kadang ketika dirangsang oleh wawancara, emosi kita terangkat. Padahal wawancara banyak jebakan. Atau dirangsang oleh statemen-statemen orang lain yang berkobar, kita merasa ketinggalan, lalu kita ingin membuat statemen juga yang lebih berkobar lagi. Atau dirangsang oleh ejekan-ejekan. Apa sihmusyarakah? Ikut pemerintah berhasil apa? Lalu kita merasa bersalah dengan musyarakah ini, dan seterusnya.
Rangsangan-rangsangan untuk menyimpang itu demikian banyak. Awalnya disebabkan emosi yang tidak terkendali. Emosi itulah yang seringkali, kata Sayyid Qutb, menyimpangkan orientasi kita sedikit atau banyak. Ini harus dievaluasi dan diwaspadai. Jangan sampai oleh rangsangan-rangsangan eksternal bentuknya apa pun, tiba-tiba kita emosi. Akhirnya, kata Sayyid Qutb, ada mail. Artinya mulai menyimpang dari al-ittijah (orientasi kerja) kita. Orientasi kerja kita untuk meraih mardhatillah, orientasi kita untuk mengembangkan hasanat kita, orientasi kita untuk terus-menerus berbuat ihsan, tiba-tiba menyimpang. Orientasi kita sebagai da'i untuk selalu terus membangun komunikasi, untuk memelihara akses komunikasi dengan semua golongan umat, bangsa, dan kemanusiaan ini, tiba-tiba dirusak oleh rangsangan-rangsangan terhadap emosi kita. Na'udzubillahi min dzalik. Itu yang digambarkan oleh Sayyid Qutb rahimahullah, kemudian beliau mengatakan, "Wa min tsamma fa hiya syughlun daaimun fii kulli harakatin min harakaati al-hayaah."
Usaha untuk menjaga istiqamah itu merupakan usaha yang penting dalam setiap gerakan dari gerak-gerak hidup kita.
Ikhwan dan akhwat fillah, itu gambaran kita, bagaimana supaya kita menjadi harakah dakwah yang selalu berhasil, insya Allah bi'aunillah...
Sumber: Majalah Al-Intima/Edisi No. 038
![]() |
| Oleh: Ustadz. Hatta Syamsuddin |
Mari kita belajar dari sosok Nabi Sulaiman SAW, satu-satunya di dunia ini yang diberikan tiga hal yang bahkan tidak diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Tiga hal tersebut adalah kekayaan, kenabian dan kekuasaan. Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.
Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya: ‘Aku akan menggilir sembilan puluh sembilan istriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah”. Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” (jika Allah SWT berkehendak). Seorang sahabat beliau telah mengingatkan: “Ucapkan Insya Allah“. Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasihat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.
Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi nabi Sulaiman. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu. Inilah yang digambarkan dalam surat Shad ayat 34 Allah SWT berfirman mengisahkan: “dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya akan hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.
Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah SWT. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah SWT menguji dan membesarkan nabi Sulaiman. Apa yang terjadi setelahnya? Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah SWT. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi“ (Shad:34-35)
Subhanallah, taubat yang melahirkan semangat dahsyat. Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah SWT pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk di hadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.
Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
“Jika kamu bersabar dan bertaqwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Q.S. Al-Imran: 125)
Mengawali tulisan ini, penulis teringat dengan salah satu perang yang membawa kemenangan bagi pasukan Rasulullah Saw, perang Badr. Perang yang membakar semangat umat Islam, perang yang membuat penulis merinding tatkala membaca kisah-kisah keajaiban yang muncul karena bantuan yang dikirimkan oleh Allah. Seperti kata Allah pada kutipan ayat di atas. Dia datang menolong dien-Nya dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda dan entah dengan jalan apa lagi DIA akan menolong hamba-Nya yang selalu bersabar.
Dalam keadaan bagaimana pun, seruan Allah akan kesabaran ini amat banyak dalam kitab suci Al-Quran, hingga pantaslah jika ‘bersabar’ adalah pekerjaan berat yang akan diujikan kepada tiap hamba yang senantiasa berpegang teguh pada tali agama-Nya. Dan wajarlah bila balasan yang dijanjikan bagi orang yang bersabar adalah surga, sebab ia teramat berat untuk dijalani.
Pembaca milis yang setia, ketika diri dilanda fitnah, maka di situlah awal sabar hendak ditanam. Tak usah khawatir akan fitnah. Sejak zaman Rasulullah, toh, perbuatan keji itu sudah ada. Masih jelas, amat kental dalam ingatan penulis, ketika orang paling munafik di kalangan Quraisy memfitnah Aisyah RA bahwa beliau sengaja berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang sahabat. Padahal, berdasarkan kisah, sungguh hal itu tidaklah seperti yang dituduhkan. Begitu berbahayanya fitnah hingga berita tersebut menyebar di seluruh kalangan dengan begitu cepatnya. Bahkan, salah seorang sahabat, Abu Bakar Assiddiq RA yang dikenal dengan kelembutan hatinya sedemikian marahnya mendengar putrinya, Aisyah, berbuat demikian. Apatah lagi sang suami, lelaki paling mulia, Rasulullah SAW ketika mendengar kabar tersebut kemudian terbesit rasa percaya akan kabar tersebut, sungguh penyiksaan besar yang dirasakan oleh Aisyah RA semalam suntuk beliau menangis pedih. Tiga bulan lamanya ia dijauhi oleh Rasulullah, Saw. Bahkan sempat terdengar kabar, Abu Bakar RA rela putrinya diceraikan sekiranya kabar tersebut benar adanya. Itulah fitnah, punya kekuatan menumbangkan lawan atau musuh dari segi mental. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Namun, perlu kita ketahui bersama bahwa kebenaran akan terkuak dengan sendirinya. Kesabaran akan membuka tabir fitnah yang tak jelas itu. Jikalau Rasulullah memperoleh kebenaran dari adanya wahyu, tentulah manusia biasa pun akan diberikan jalan oleh-Nya.
Tak perlu risau dengan fitnah. Bukankah memang demikian adanya! Kebenaran akan diiringi oleh kebatilan. Bukankah sangat jelas pula bahwa kemudahan menyertai kesulitan. “Inna ma’al ‘usrii yusroo” (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), (QS. Al-Insyirah: 5). Usah resah akan fitnah yang bertandang jika diri sudah berjalan pada koridor yang tepat. Tak mestilah takut menggelayuti. Amat wajar kejujuran mendapat cobaan. Sudah lumrah kebenaran berteman dengan ujian. Semua sudah sunnatullah. Yang terpenting diri tahu bahwa pelaku fitnah alias ‘munafik’ tempatnya adalah Hawiah, lapisan terbawah dari tujuh neraka. Yang jelas diri paham akan firman-Nya dalam Al-Quran surah Al- Baqarah: 217 “Walfitnatu akbaru minal qotli” (Sedangkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan)
Sekali lagi, tak perlu galau bila diri dilanda fitnah. Janji Allah itu pasti, bahwa “Innalloha ma’a sshoobiriin” (Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar). Surah Al-Imran pada pembukaan tulisan di atas pun amat jelas menerangkan kepada kita bahwa kesabaran adalah kunci kemenangan. Tak perlu memikirkan dengan cara apa Dia akan menolong. Dia jauh lebih punya kuasa dibanding dengan penyebar fitnah. Dia amat tahu melalui cara apa hamba itu dimudahkan-Nya.
Jaga Allah, maka Allah akan menjagamu. Itulah janji-Nya. Betapa indah ia memberikan janji kepada hamba-Nya. Tentulah, Dia akan dating dengan cara yang lebih indah. Penulis teringat dengan sebuah hadits hasan lagi shahih, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW lalu beliau bersabda, “Nak, akan aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya dia akan senantiasa bersamamu, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan padamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya, kecuali yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan itu telah mengering.
Sungguh dahsyat susunan hadits yang disabdakan oleh Rasulullah. Mudah-mudahan terpetik banyak hikmah. Satu hal yang mesti ditekankan dalam diri bila fitnah benar-benar bertandang adalah bahwa kemenangan akan selalu mengiringi kesabaran. Bersabar terhadap fitnah yang menghampiri insya Allah jalan keluar akan tampak jelas. Wallohu’alam bissawwab.
Mendengar suatu berita fitnah yang menyayat hati dan menimpa keluarga, seketika nuarani tersayat mengingat Rasulullah saw. karena siapa lagi yang pantas diteladani selain seseorang yang akhir hayatnya pun menyebut nama kami, umatnya, masya Allah.
Suatu fitnah pernah menimpa istri Rasulullah saw, Aisyah ra ketika Aisyah tertinggal dari tandu yang membawanya karena mencari kalung yang diberikan Rasulullah dan salah seorang sahabat mengantar Aisyah untuk menyusul. Inilah yang menyulut fitnah.
Bagaimana Rasulullah menghadapi hal ini? Ketahuilah bahwa Rasulullah bersabar dengan tetap berusaha mengumpulkan bukti, namun ia pun tak membela Aisyah ra, istrinya. Rasulullah sangat objektif, ini pun menjadi sebuah pelajaran bahwa rasa cinta itu memang tak boleh berlebihan.
Hindarilah tersulut emosi ketika menghadapi fitnah, ‘fashabrun jamiil..!”. dan tak pula Rasulullah menyalahkan, pun menerima sementara berita yang tak pelak menyebar. Bahkan abu bakar pun mendiamkan aisyah putrinya, sampai kebenaran dari Allah datang menghampiri. subhanallah.
Ada beberapa hikmah yang menjadi mata ajar keteladanan dalam menghadapi fitnah:
- Bahwa memang tak boleh ada cinta yang berlebih selain kepada Allah. maka tak ada pembelaan melebihi membela Allah dan Islam.
- Bahwa bersabar adalah sikap yang terbaik dalam menghadapi fitnah atau musibah, bukan sebuah pembelaan. hanya kesabaran.
- Sungguh orang-orang yang tersulut berita fitnah tentang aisyah dan orang-orang yang senang adalah bukti Allah menyaring siapa saja hambanya yang munafik, fasik, dan lemah dalam kesabarannya.
- Rasulullah dan para sahabat tidak banyak berkomentar pun menanggapi fitnah tersebut, karena kesabaran mengarahkan beliau pada kehati-hatian dan itulah ciri taqwa.
- Sungguh dengan fitnah dakwah kepada Allah dan Islam tidak akan pernah surut atau pun terhenti. Maka tak ada ketakutan terhadap suatu makhluk melainkan kepada Allah swt. Maha suci Allah.
- Bahwa fitnah menjadi sebuah pelajaran besar bagi umat muslim, karena sikap terhadap menghadapi fitnah akan membuktikan siapa kita sebenarnya.
- Sungguh sekali lagi Allah mengingatkan janganlah berlebihan berkasih sayang atau mencintai sesuatu. Sungguh tingakatan cinta terawal hanya untuk Allah. Gantilah cinta berlebihan itu dengan kesabaran cinta yang tak diungkapkan dengan kata dan penyanjungan berlebihan terhadap manusia, meski ia orang tua bahkan istri atau suami.
- Sungguh menahan diri untuk tidak menyibukkan diri menanggapi fitnah, karena Rasulullah dan para sahabat tahu hal itu akan semakin membuatnya gundah dan menenggelamkan pada kesedihan bahkan perbuatan yang sia-sia. Jika Rasulullah menanggapi/membela, berapa banyak waktu yang disia-siakannya dan akan menurunkan kredibilitasnya sebagagai pemimpin.
- Rasulullah dan para sahabat menghindari kebencian, di hati seorang muslim sejati, tiap malamya tak akan menyimpan dendam, maka sikap dan sifat objektif membawa keselamatan kepercayaan umat dari hal yang pribadi.
- Sebagai orang yag terfitnah Aisyah pun menangis dan bersabar, ia adalah orang yang paling sakit pun Rasulullah mengacuhkannya, namun ia pasrah jika peristiwa itu memang menyatakan Aisyah bersalah maka siap menjalani hukuman Allah, sebagai ketaatan keputusan dan jika berita itu tidak benar, maka nyatalah hari ini memang hal tersebut adalah pelajaran besar.
- Waspada atau berhati-hati sungguh sifat ketaqwaan. Apapun yang dikerjkan dan dikatakan berhati-hatilah.
Sumber: Oleh: Qitbiya Ilhami, http://www.dakwatuna.com/2013/01/27440/mutiara-taqwa-dalam-kerang-fitnah/#ixzz2JZOGGTkO
1. Buku ini lahir dari catatan dan
penelusuran penulis semasa mengemban amanah konstitusional sebagai salah
satu Anggota Pansus Bank Century. Sebagai anggota yang turut terlibat
aktif dalam sebuah momentum yang banyak kalangan dianggap sebagai
"keributan" nasional, yang disajikan hampir setiap hari selama kurang
lebih 3 (tiga) bulan penuh di berbagai media cetak dan elektronik
nasional
2. Sulit untuk diterima, jika kasus yang
telah menyita perhatian publik ini, tidak dipertanggungjawabkan, apalagi
dilupakan. Paling tidak, kita menentukan arah sejauh mana arah kasus
yang merugikan negara triliunan rupiah tersebut berujung. Kasus Bank
Century telah diawali dari sebuah proses politik konstitusional, karena
itu pula ia harus diakhiri dengan proses yang juga konstitusional.
3. Data dan fakta hukum yang disajikan
dalam serangkaian sidang yang panjang, tidaklah mengurahi keabsahan
konstitusional yang seharusnya dijalani oleh proses ini. Apalagi telah
terbukti, sebagaimana diungkapkan oleh BPK, kasus ini telah melibatkan
jantung kekuasaan, khususnya pihak-pihak yang saat ini sedang memangku
jabatan di aras puncak kekuasaan.
4. Buku ini menyajikan data dan fakta
sebagaimana yang terungkap dalam sidang Pansus Bank Century, demikian
pula perkembangan yang terungkap dalam sidang Tim Pengawas Bank Century.
Karena itulah penulis hendak mengungkapkan bahwa kejanggalan yang
diekspresikan dengan keresahan menjadi bahan penting untuk dibukukan,
agar publik menyadari sejauh mana kasus ini berawal dan berkembang
hingga menyisakan persepsi dalam opini publik. Penulis berusaha
menghindari berbagai kepentingan sensasional dengan dukungan data dan
fakta yang objektif, sistematis dan komprehensif.
5. Meski demikian, kita pun harus menerima
kenyataan, bahwa rekomendasi dan kesimpulan Paripurna DPR-RI serta
berbagai temuan dalam Tim Pengawas Century, tidak membuat lembaga
penegak hukum untuk sepenuhnya mengakomodasi temuan-temuan tersebut
sebagai fakta-fakta lanjutan demi memenentukan pihak-pihak yang
seharusnya bertanggung jawab dalam kasus ini.
6. Pada akhirnya, sulit memisahkan kuatnya
aroma kekuasan yang melingkupi kinerja lembaga penegak hukum, khususnya
KPK. Kondisi ini tentu saja akan merusak tatanan hukum itu sendiri dan
semakin menegaskan ketumpulannya saat berhadapan dengan kekuasaan.
7. Pada akhir buku ini, penulis menyajikan
solusi politik yang layak diajukan mengiringi kompleksitas persoalan
kasus Bank Century. Boleh jadi, ke-mega-an skandal yang terjadi pada
kasus Bank Century telah membuat institusi-institusi penegak hukum
cenderung kehilangan “nyali” dalam menentukan sikap. Namun, kita tidak
bisa menolak kenyataan, bahwa kasus ini harus dijelaskan dan
diselesaikan. Menyandera persoalan demi mengakomodasi kepentingan
kekuasaan bukanlah jalan yang bijak, sebab akan tetap menjadi ”hutang”
bagi setiap orang dan institusi yang pernah terlibat di dalamnya
(justice delayed, justice denied).
8. Kita tidak perlu berburuk sangka
terhadap pihak-pihak yang layak bertanggung jawab. Pun kita tidak
sepantasnya menyimpan persoalan ini seperti menyimpan “kotoran” di bawah
karpet kebangsaan kita yang setiap saat bisa mengeluarkan bau tidak
sedap. Kita hanya perlu bersikap jujur pada diri sendiri, pada hukum,
pada negara dan pada publik. Kasus Bank Century telah kita buka dengan
terang-benderang, saatnya kita menyelesaikannya atau “menutup”-nya
dengan terang-benderang pula.
9. Kasus Bank Century ini telah memantik
kesadaran konstitusional kita. Akankah kita berpegang erat pada sistem
dan kelembagaan yang telah diamanatkan oleh UUD 1945, ataukah hanya
terpaku pada kultus individual-personal yang justru bisa datang
“silih-berganti”.
10. Demokrasi besar dan bermakna jika
hanya digadai oleh personalitas semata. Demokrasi menjadi rendah dan,
bahkan, tak bernilai jika hanya mengumbar ketidakpastian dan retorika.
Kasus Bank Century adalah ujian bagi semua tekad dan niat baik kita
dalam menata sistem sosial, politik, ekonomi dan hukum yang lebih baik,
melapangkan jalan bagi demokrasi yang kita rindukan untuk sepenuhnya
mewarnai tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu,
memastikan “Kemana Ujung Century” lebih penting dari sekedar menguburnya
dalam alam bawah sadar kita.
Sumber: fahrihamzah.com
| Khairurrizqo |
Tulisan ini mencoba melakukan analisa –berdasarkan kasus-kasus tersebut- mengenai risiko yang ditempuh sebuah gerakan ketika mereka memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaran 'politik praktis'.
Dari pengalaman di Indonesia misalnya, beberapa gerakan Islam gagal menghadapi tantangan politik. Beberapa partai Islam kalah dalam proses politik yang fair dan elegan, tetapi –dan ini yang jarang diulas- partai Islam seringkali kalah, bukan karena tidak mampu mendulang suara, tapi gagal menghindar dari fitnah lawan politik yang berujung pada 'pembredelan' partai tersebut oleh penguasa, baik langsung maupun tidak langsung. Masyumi di era Orde Lama dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di awal era Orde Baru menjadi bukti gagalnya gerakan Islam menghadapi cobaan demokrasi. Bagaimana dengan PKS?
Cobaan Demokrasi
Demokrasi adalah pasar bebas politik. Semua ide dan gagasan ditawarkan di sini, dalam berbagai bentuknya. Pembelinya adalah rakyat. Rakyat yang akan menilai gagasan apa yang layak dibeli, dan gagasan mana yang sebaiknya dibuang. Maka tugas partai adalah mengemas gagasan itu dengan bentuk terbaik, sehingga tampak menarik untuk dijual dan ada kemungkinan untuk 'laku' di pasaran politik.
Dalam tataran ideal, demokrasi yang tak ubahnya seperti pasar ini justru menjadi masalah, karena menjadi absurdnya kebenaran dalam politik. Hal ini paling tidak didasari oleh beberapa hal; pertama, kebenaran, seringkali kemudian menjadi domain partai atau koalisi partai mayoritas. Inilah kebenaran politik, yang belum tentu merupakan kebenaran hukum, dan apalagi kebenaran agama. Demokrasi, dalam istilah lainnya, kemudian menjelma menjadi peraturan tentang kemenangan 51 persen atas 49 persen, sesuatu yang oleh Alexis de Tocqueville disebut sebagai 'tirani mayoritas'.
Kedua, gagasan tentang apa itu 'kebenaran dalam politik' berbeda antara satu partai dengan partai lain. Persamaannya, adalah semua partai meyakini bahwa untuk membuktikan sejauh mana kebenaran gagasan mereka, yang harus dilakukan rakyat adalah memilih mereka untuk berkuasa di lembaga negara. Gagasan kebenaran politik dalam bentuk 'ideologi partai' ini kemudian menjadi semacam karakter yang membedakan antara satu partai, dengan partai lainnya.
Ketiga, Dengan analogi pasar bebas dan kebenaran yang absurd, maka persaingan menjadi sedemkian bebas. Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa konotasi term 'politik' menjadi bernilai 'negatif'. Tak lain karena, demokrasi hampir-hampir memberi jalan bagi partai politik untuk merebut kekuasaan dengan segala cara. Toh, benar salahnya cara yang ditempuh, akan masuk dalam perdebatan politik, bukan justifikasi hukum. Inilah cobaan demokrasi, yang segera kemudian menjadi mekanisme seleksi alamiah; yang mampu beradaptasi akan terus bertahan. Yang gagal, segera masuk kotak.
Reformasi 1998 membawa Indonesia untuk 'belajar kembali' tentang demokrasi, setelah pernah diaplikasikan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Dalam kondisi inilah, PKS muncul (sebelumnya PK) dengan menawarkan gagasan Islam sebagai landasan ideologi. Diisi dominan oleh orang-orang dengan latar belakang aktivis Islam kampus, idealisme dan ide Islam Politik kemudian menjadi 'dagangan' PKS dalam menjual gagasannya kepada rakyat.
Namun, lazimnya partai lain yang terus eksis, PKS pun tidak lepas dari cobaan demokrasi. Cobaan yang dihadapi adalah bagaimana mengejawantahkan ideologi partai dalam tindakan nyata di ruang publik. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana 'kebenaran politik versi PKS' menjadi 'kebenaran politik' yang diyakini juga oleh masyarakat. Hal ini nampaknya menghadapi beberapa kendala tertentu;
Pertama, adalah upaya PKS untuk memperluas basis pemilih (kader dan simpatisan). Selama ini PKS dianggap masih berada di 'kanan' dengan basis agama yang kuat, dan belum mampu bergeser ke 'tengah' untuk menggaet masa Nasionalis. Pilihan strategi yang diambil pun tidak main-main; menjadi partai terbuka. Pilihan cerdas sekaligus kontroversial; di satu sisi PKS harus mampu mengemas gagasan ideologi mereka sedemikian rupa untuk meraih simpati massa kelompok nasionalis, di sisi lain PKS juga harus menjelaskan pilihan untuk 'terbuka' ini pada kader dan simpatisan mereka yang kebanyakan adalah kelompok Islam loyalis. Pada titik inilah soliditas PKS sebagai partai kader diuji.
Kedua, adalah cobaan demokrasi bernama kekuasaan. Dalam hitung-hitungan koalisi, praktis PKS adalah partai yang menempati pos menteri terbanyak setelah Partai Demokrat, sebanyak 4 menteri. Tentu saja ini berkah sekaligus cobaan. Dari sisi internal, kader PKS harus mampu untuk 'menahan diri' terhadap godaan kuasa yang biasanya mendatangkan harta. Jabatan politik, seharusnya berdampak strategis bagi konstituen PKS secara keseluruhan, bukan lahan pembagian jabatan dan proyek-proyek besar. Secara internal, godaan-godaan 'dunia' ini harus diantispasi oleh kader-kader PKS.
Ketiga, adalah cobaan demokrasi berwujud koalisi. Sebagai partai pendukung pemerintahan, PKS dihadapkan pada dilema dalam menentukan sikap. Di satu sisi, PKS mempunyai idealisme tersendiri berdasarkan platform ideologi yang menjadi dasar gerakan, namun di sisi lain PKS –sebagai mitra koalisi- dihadapkan pada tuntutan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Dua hal ini seringkali tidak seiring sejalan. Namun, patut diapresiasi ketika dalam beberapa kasus, PKS konsisten dalam mempertahankan sikapnya 'berbeda jalan' dengan pemerintah.
Badai Pasti Berlalu?
Dalam bukunya Dari Gerakan ke Negara, Sekjen PKS Anis Matta sudah memberikan 'early warning' terhadap pilihan gerakan tarbiyah –cikal bakal PKS- untuk masuk dan terlibat dalam demokrasi. Dalam buku tersebut, Anis mewanti-wanti kader PKS untuk siap menghadapi era demokrasi dan keterbukaan, di mana 'kebenaran dan kebathilan sama-sama bersaing untuk meraih simpati masyarakat'. Maka di era persaingan politik ini menurut Anis, yang harus dilakukan kader PKS adalah 'membuktikan bahwa yang benar di mata Islam adalah benar juga di depan hukum, dan apa yang salah menurut Islam adalah juga salah menurut hukum yang berlaku'.
Seperti jamaknya ajaran agama, bahwa siapa mampu menghadapi cobaan, maka sesungguhnya Tuhan sedang mengujinya untuk membuat ia tangguh. Tapi, barangsiapa gagal menghadapi cobaan -sesuai kadarnya- maka sesungguhnya ia telah gagal mencapai derajat keimanan. Analogi ini tepat untuk PKS. Pilihannya sederhana; jika sukses menghadapi 'cobaan demokrasi' ini, maka PKS akan semakin kuat dan beranjak menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia, sebaliknya jika gagal, maka PKS mengikuti pendahulunya partai-partai Islam yang 'masuk kotak', justru karena demokrasi.
Di atas itu semua, patut diapresiasi pilihan politik PKS untuk 'berani bertarung' dalam Demokrasi. Ketika beberapa gerakan Islam lainnya justru tidak berani berpolemik dalam politik, PKS justru masuk dalam politik praktis. 'Percuma saja berlayar, kalau takut Gelombang' begitu mungkin gubahan yang tepat. Maknanya; 'Buat apa punya cita-cita perubahan, kalau takut menghadapi cobaan demokrasi?'
*) Khairurrizqo adalah mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan peneliti budaya politik di Hikaam Institute Jakarta. (vit/vit)
Sumber: detik.com
![]() |
| Fuad Rumi Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) |
Seperti kita ketahui dalam pemberitaan yang segera merebak ketika itu, Arifinto lalu mendapat pemberitaan publik yang gencar.
Arifinto sendiri mengatakan bahwa video porno yang dilihatnya adalah kiriman seseorang melalui alamat emailnya.
Tulisan ini tidak ingin mengulas duduk perkara kejadian itu sendiri, tetapi ingin bertolak dari keputusan mundur Arifinto sebagai anggota DPR atas kejadian tersebut.
Sehubungan dengan "kecelakaan" ini, Arifinto telah menunjukkan sebuah sikap yang baik dan tepat. Arifinto menunjukkan sebuah pertanggungjawaban moral akibat keteledoran yang telah dilakukannya.
Arifinto tidak ingin membiarkan media dan publik berlama-lama menguras energi mengecam dirinya. Ia segera mengambil keputusan ksatria, mundur.
Sesungguhnyalah di balik keputusan itu ada sebuah makna penting yang perlu ditangkap sebagai pesan oleh para wakil rakyat lainnya, dan juga para elite pemimpin negeri ini. Pesan itu adalah tentang kesatriaan untuk mundur dari kedudukan manakala telah melakukan pelanggaran hukum dan etika atau tidak lagi mampu mengemban amanah yang dipikul.
Di negeri kita, mundur dari jabatan sebagai pertanggungjawaban moral adalah sesuatu yang belum pernah terjadi. Jika di negara lain, ada pejabat yang meletakkan jabatan atau bahkan bunuh diri sebagai wujud tanggung jawab moralnya, maka di negeri kita tidak pernah ada. Kata sementara elite yang dalam wilayah tanggung jawab moralnya pernah ada kejadian yang seharusnya membuat ia malu dan mundur, sembari senyum hanya mengatakan ah itu bukan budaya kita.
Karena itulah, momentum mundurnya Arifinto sebagai wakil rakyat, patut kita garisbawahi sebagai sebuah kesadaran baru yang seharusnya juga dimiliki oleh para elite kita, siap mundur jika tidak mampu atau melanggar etika dalam menjalankan amanah, apalagi jika melanggar hukum. Jika dalam pemilukada dan pilpres ada jargon populer siap kalah dan siap menang, maka seharusnya juga ada jargon siap mundur jika tak mampu memanggul amanah.
Mundurnya Arifinto sudah barang tentu setelah melalui proses konsultasi dengan partainya sendiri, PKS. PKS sendiri sebagai partai dengan slogannya yang terkenal, Bersih dan Peduli, mendapatkan ujian besar dengan insiden Arifinto itu. Konsistensinya terhadap jargon tersebut ditagih masyarakat dengan adanya kejadian tersebut.
Akhirnya, jawaban sudah diberikan. Arifinto minta maaf dan menyatakan diri mundur. Itu, sekali lagi, adalah jawaban konsistensi dan kesadaran akan tanggung jawab moral yang ditunggu masyarakat. Harapan selanjutnya ialah agar konsistensi dan tanggung jawab moral itu terus dipegang teguh sebagai sebuah prinsip oleh PKS.
Akhirnya penting digarisbawahi bahwa kejadian itu sebenarnya dan hakikatnya bukan hanya berkenaan dengan Arifinto seorang. Di negeri ini, betapa banyak elite yang sebenarnya telah menginjak-injak hukum dan mengoyak etika, hanya saja tidak "tertangkap kamera". Dalam konteks itulah, pengunduran diri Arifinto diharapkan menjadi sebuah kesadaran baru, dimana para elite pengemban amanah publik negeri ini mau menunjukkan sikap ksatria, mundur jika telah melakukan hal yang tidak pantas atau gagal melaksanakan amanah.
Kesediaan mundur bila berbuat salah adalah sebuah kesadaran akan tanggung jawab yang diemban. Ia juga adalah manifestasi dari rasa malu yang masih dimiliki sebagai bukti masih hidupnya nurani.
Kesadaran seperti itulah yang kita saksikan, antara lain, pada masyarakat Jepang yang saat-saat sekarang ini membuka mata kita melihat betapa tangguhnya mereka sebagai sebuah bangsa. Betapa seringnya terjadi pejabat publik Jepang, mengundurkan diri dan bahkan bunuh diri, karena merasa malu melanggar kepatutan dan hukum.
Sekarang, di negeri ini, mari kita saksikan, seorang Arifinto telah menunjukkan sebuah teladan tentang seorang terhormat, seorang pejabat publik yang menyadari sebuah ketidakpatutan yang telah dilakukannya, justru demi keterhormatan itu dia mundur. Kita tidak perlu mengurangi rasa hormat pada dirinya, sebab sebaik-baik orang bukanlah karena ia tidak pernah bersalah, tapi ia jujur mengaku salah lalu bersedia memikul akibat dari kesalahannya.
Sesudah ini kita tidak mengharap ada "Arifinto" berikutnya. Tapi bila toh tidak terelakkan, terjadi lagi, maka tidak usahlah menunggu lama-lama, segera mundur demi kehormatan diri dan demi tidak mencemari habitat tempat mengabdi.
http://www.fajar.co.id
Kesungguhan itu lawan dari main-main, yaitu sungguh-sungguh
dalam suatu urusan dan memberikan perhatian yang lebih besar dari biasanya
serta bersegera ingin menunaikannya.
Untuk menuju ke sana para aktivis dakwah dituntut memiliki
semangat yang tinggi, memberikan segala kemampuannya, dan tidak boleh ragu-ragu
ataupun berhenti di tengah jalan, atau bermalas-malasan di tengah perjalanan.
Biasanya, ketika meniti perjalanan yang panjang/semangat
para aktivis dakwah melemah, tekad mereka mengendur, dan langkah mereka
melamban. Pada saat itulah amal islami (pergerakan Islam) menjadi lemah dan
berkurang pengikutnya.
Sebagian mereka juga merasakan nikmatnya beristirahat dan
rela dengan hal itu. Mereka merasa berat dengan beban dakwah dan tidak
menyukainya, memperbanyak senda gurau dan tawa canda, serta bersenang-senang
dengan pertemuan yang sepi dari semangat dan kesungguhan.
Mereka juga merasa nyaman dengan tidak ikut serta dalam
kafilah jihad. Mereka tidur lelap dan rela dengan hanya memberi kontribusi yang
sedikit. Mereka menyibukkan diri dengan urusan yang tidak penting dan
melalaikan kewajiban yang sesungguhnya, serta lupa bahwa kewajiban itu lebih
banyak daripada waktu yang tersedia. Mereka rela dengan kontribusi minimal yang
diberikan kepada dakwahnya, dan sudah menganggapnya sebagai kontribusi yang
besar.
Karena itu, harus selalu dipompakan semangat yang tinggi dan
kesungguhan yang benar agar kita mampu menunaikan amanah dan tanggung jawab
kita serta sampai pada tujuan. al-Qur'an telah memuji sekelompok manusia yang
beriman dengan iman yang sesungguhnya. Mereka menyingsingkan lengan baju, dan
bersungguh-sungguh mencari keridhaan dari Allah. Allah Ta'ala berfirman,
“Mereka itu bersegera
untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera
memperolehnya.” (aI-Mu'minun [23] :
61)
Yang harus diingat, ketika berbicara tentang semangat yang
tinggi dan kesungguhan adalah kontribusi dan kesungguhan itu berbanding lurus
dengan kedekatan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits qudsi
Dia berfirman,
“Barangsiapa yang
mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa
yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan,
apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya
dengan berlari.” (HR. Muslim, dalam
kitab at-Taubah, Nomor 2675).
Para pemalas tidak sama dengan orang yang sungguh-sungguh
dan memiliki semangat tinggi.
"Tidaklah sama
antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur
dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat..." (an-Nisa'
[4]: 95)
Orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan kesungguhan
yang tulus, merekalah orang-orang yang berhak mengemban dakwah ini dan
menyampaikannya kepada manusia. Karena itulah, pengemban dakwah yang
sesungguhnya adalah mereka yang menghabiskan umurnya, mengorbankan hartanya,
dan memberikan waktunya untuk kemenangan dakwah.
Asy-Syahid al-Banna mengatakan, “Adalah sebuah kesalahan jika ada yang menyangka bahwa Ikhwanul
Muslimin adalah para da'i yang menyeru manusia kepada kemalasan dan
keterlenaan. Ikhwan selalu menyerukan di setiap kesempatan bahwa seorang Muslim
harus menjadi pelopor dalam segala sesuatu. Ikhwan tidak rela hidup tanpa
qiyadah, tanpa amal, dan tanpa keunggulan dalam segala hal, baik dalam ilmu,
kekuatan, kesehatan, maupun finansial. Sebab, keterbelakangan dalam suatu sisi
dari berbagai sisi yang ada itu akan membahayakan fikrah kami dan bertentangan
dengan ajaran Islam.”
Beliau juga mengatakan, “Sedikit
sekali orang yang tahu ketika salah seorang da'i Ikhwan keluar dari tempat
kerjanya pada hari Kamis sore, lalu pada waktu isya sudah berceramah di
al-Manya. Di hari Jumat ia menyampaikan khotbah di Manfaluth, Jum'at sorenya
berceramah di Asiyuth, dan setelah isya pada hari itu juga sudah berdakwah di
Sauhaj, baru kemudian pulang. Pagi-pagi buta di keesokan harinya, ia sudah
berada di tempat kerjanya di Kairo, bahkan mendahului karyawan lainnya.”
Surat Terbuka untuk
Para Pemalas
Pemalas adalah orang yang tidak beruntung. Ia menghalangi
dirinya dari pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. la terbuai dengan
kenikmatan sementara yang dirasakan dari duduk-duduk dan istirahatnya. la lebih
mengutamakan santai daripada menyiapkan diri untuk kehidupannya yang tersisa.
"Sekali-kali
janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan
meninggalkan (kehidupan) akhirat." (al-Qiyamah [75]: 20-21)
Dia rela dengan kondisi dirinya. Rela dengan ketertinggalan
dan kemalasannya. Seharusnya, dia bisa bangkit lebih tinggi. Sesungguhnya, kita
tidak membutuhkan para pemalas. Kita hanya bisa menasihati dan mendoakan
mereka. Kita ajak mereka untuk berpikir ulang. Mari kita lihat teman-teman dan
saudara-saudara yang telah meninggalkan kita. Barangkali, kita bisa
membangkitkan dan menguatkan kembali semangat mereka.
Kita tidak mungkin bisa mengingkari kematian atau
orang-orang mati yang setiap hari kita antarkan ke liang lahat. Tidak dapat
kita pungkiri bahwa kita kehilangan mereka untuk selamanya. Tidak dapat kita
pungkiri juga bahwa di antara mereka ada yang masih muda dan ada pula yang
sudah tua. Di antara mereka ada bayi-bayi yang tak berdosa dan wanita-wanita
lemah. Di antara mereka ada yang mati dalam keadaan sehat dan ada pula yang
mati karena sakit.
Mati adalah sebuah keniscayaan, mendatangi orang yang sudah
tiba saatnya. Tidak ada yang mengetahui. Bisa jadi, kematian akan merenggut
kita hari ini dan tidak bisa ditunda sampai hari esok. Pada saat itulah, tidak
berguna lagi penyesalan.
"(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata. 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku
berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.'Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya, itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (al-Mu'minun [23]: 99-100)
“Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian
kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, Ya Tuhanku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.”
(al-Munafiqun [63]: 10)
Maka, berbuatlah... dan berbuatlah....
Bersungguh-sungguhlah... dan bersungguh-sungguhlah..., sebelum kedatangan suatu
hari yang tidak berguna lagi bagi seseorang kecuali apa yang sudah ia perbuat.
Semangat yang tinggi dan kesungguhan dalam sebuah aktivitas
dapat memengaruhi derajat surga di antara orang-orang yang beriman.
"Tidaklah sama
antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur
dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (an-Nisa' [4]: 95)
Jangan seperti Mereka
1. Seperti yang
difirmankan oleh Allah,
"Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat
itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Maka, perumpamaannya seperti anjing.
Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu
agar mereka berpikir." (al-A'raf
[7]: 175-176)
2. Orang yang
kepergiannya tidak disukai oleh Allah, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
"Mereka rela
berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang...." (at-Taubah [9]: 87)
Sebabnya adalah hilangnya semangat dan tidak pergi berjihad.
"Dan jika mereka
mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu,
tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan
keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama
orang-orang yang tinggal (tidak pergi berperang) itu.” (at-Taubah [9]: 46)
3. Orang yang
mencintai dunia sehingga mengalahkan akhirat.
"Hai orang-orang
yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah
(untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di
tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di
akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)
di akhirat hanyalah sedikit" (at-Taubah
[9]: 38)
Jadilah Seperti
Orang-orang yang Menepati Janji dan Bersegera Meraih Kebaikan
Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
“Laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati
Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang." (an-Nur [24]: 37)
"Di antara
orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula)yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah
(janjinya)." (al-Ahzab [33]:
23)
"Mereka itu
bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya." (al-Mu'minun
[23]: 61)
Tanda-tanda Kesungguhan
dan Semangat Tinggi
- Bersegera menunaikan shalat, "Bangkitlah untuk shalat
ketika kalian mendengar panggilan shalat, apa pun keadaan kalian."
- Berkomitmen untuk menghadiri semua pertemuan dan disiplin
di dalamnya.
- Merespons dengan cepat instruksi-instruksi mendadak yang
diberikan.
- Bersegera menginfakkan harta untuk kepentingan dakwah.
- Tidak berjalan bersama para pemalas dan orang-orang yang
suka meninggalkan dakwah.
- Menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk
kepentingan umat dan dakwah.
Sumber: Memperbarui Komitmen Dakwah (Muhammad Abduh)











