![]() |
| Hidayat - Didik |
Jika HNW terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, maka anggaran JPK-Gakin dan SKTM yang saat ini dialokasikan dalam APBD sebesar Rp600 miliar, akan meningkat menjadi Rp1,2 triliun. "Itu sudah menjadi komitmen kami bila terpilih nanti," tandas mantan Presiden PKS itu dalam debat kesehatan di FK UI, Senin (14/5/2012).
Tak hanya itu, HNH juga akan meningkatkan anggaran promosi kesehatan dalam APBD DKI dari semula sebesar Rp150 miliar menjadi Rp300 miliar. Menurut dia, kegiatan promosi kesehatan merupakan langkah penting dalam pencegahan penyakit bagi warga dan untuk mengetahui kemana warga harus berobat terlebih dahulu secara berjenjang.
"Selama ini, tindakan sosialisasi dan promosi kesehatan merupakan kegiatan atau program yang terpinggirkan. Program ini menjadi bagian terakhir dalam peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Padahal, sosialisasi dan promosi kesehatan sangat penting peranannya bagi penurunan jumlah orang sakit di Jakarta," ujarnya.
Untuk sosialisasi dan promosi kesehatan, Hidayat merencanakan akan mengajak seluruh kampus yang memiliki fakultas kedokteran untuk bekerja sama menyampaikan pola hidup sehat, pencegahan penyakit kritis dan bagaimana berobat yang benar.
"Memang kesehatan tanggung jawab DKI 1. Tetapi dalam pelaksanaannya gubernur tidak perlu menjadi one man show. Tetapi bentuk tim kerja besar di bawah komando gubernur. Tim kerja itu mulai dari wali kota, lurah, camat, rt, rw dan seluruh fakultas kedokteran untuk melayani kesehatan warga Jakarta. Maka, pelayanan kesehatan Jakarta akan menjadi barometer bagi daerah lain," tuturnya.[yeh]
[Sumber: Wahyu Praditya Purnomo/inilah.com]
![]() |
| Hidayat Nurwahid (Cagub DKI) |
"Memang menyedihkan karena pertumbuhan HIV-AIDS di Jakarta ini termasuk sangat spektakuler," kata Hidayat Nur Wahid, calon gubernur DKI yang berpasangan dengan Didik Junaidi Rachbini, seusai debat program kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Senin (14/52012).
Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 memang mencatat, DKI termasuk dalam 5 besar provinsi paling banyak kasus HIV-AIDS. Infeksi HIV pada tahun tersebut mencapai 3.998 kasus sementara AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang disebabkan oleh HIV mencapai 3.997 kasus.
Menurut Hidayat, permasalahan ini harus diatasi mulai dari hulu yakni di tingkat keluarga dan lingkungan masyarakat. Apabila dirinya terpilih menjadi gubernur DKI, ia berjanji untuk menghadirkan "Ruang Interaksi" sebagai sarana untuk berinteraksi soal bahaya HIV-AIDS.
"Tujuannya supaya tiap keluarga punya kegiatan yang konstruktif, terbuka dan nyaman sehingga tidak terjebak dalam perilaku sembunyi-sembunyi yang berakibat pada penularan HIV-AIDS," lanjut Hidayat.
Solusi lain yang ditawarkan Hidayat tentang HIV-AIDS adalah sosialisasi tetang bahaya dan pencegahannya, termasuk dengan melibatkan para pengidap.
"Termasuk dari rekan-rekan yang sudah terkena dan kemudian bertobat, atau sudah memperbaiki diri, mungkin mereka bisa diajak dalam sosialisasi," kata Hidayat.
Hidayat juga menekankan bahwa perundang-undangan harus memberi ruang bagi yang sudah terlanjur terinfeksi agar tetap mendapat pelayanan yang manusiawi. Jangan sampai karena sudah tertular, para pengidap ini lantas seperti dihukum dan dikucilkan seumur hidup.
Terakhir, Hidayat berjanji untuk mengupayakan adanya pendidikan untuk menyadarkan masyarakat soal perilaku yang berisiko tinggi untuk menularkan HIV-AIDS misalnya penggunaan narkoba suntik. Baginya, kesadaran merupakan upaya pencegahan yang paling dibutuhkan untuk mengendalikan penularan HIV-AIDS. (up/ir) [Sumber: AN Uyung Pramudiarja/detik.com].



