ROMA - Akhir musim panas, satu keputusan besar diambil Michael Barradine. Tidak mudah memang, karena Barradine lebih memilih untuk lebih dahulu meyakinkan hatinya 100 persen sebelum mengucapkan syahadat. Momentum itu akhirnya datang.
“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang, seperti dinukil dari onislam.net.
Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.
Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.
Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnz0h5-jadi-mualaf-michael-barradine-siarkan-islam-di-sinagog
PKSTAKTAKAN | PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
“Di hadapan ratusan orang, saya ucapkan syahadat. Banyak yang memelukku. Saya pun menangis,” kisahnya dengan air mata berlinang, seperti dinukil dari onislam.net.
Seketika itu, Barradine mengubah namanya menjadi Muhamamd Asad. Nama ini dipilih karena harapannya agar menjadi Muslim yang baik. Nama itu juga mencerminkan perubahan kepribadiannya sejak menerima Islam.
Tak butuh waktu lama, bagi Barradine untuk segera berdakwah. Ia mulai menjadi pembicara tentang Islam di gereja, sinagoga dan lainnya. Ia juga mulai mengajar bahasa Arab.
Beberapa tahun kemudian, ia pergi haji. “Sekarang saya menulis sebuah buku tentang Sejarah Islam dan Muslim di Era Modern,” tutupnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnz0h5-jadi-mualaf-michael-barradine-siarkan-islam-di-sinagog
PKSTAKTAKAN | PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org
ROMA - Michael Barradine telah melakukan pengembaran spritual lebih dari 30 tahun. Ia memulainya dari mempelajari Katolik, Agnostik, hingga akhirnya Islam menjadi pelabuhan terakhirnya.
“Hanya dalam Islam, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaanku,” ungkapnya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).
Perjalanan spiritual Barradine dimulai ketika ia menempuh pendidikan S3 di Universitas Arizona. Di sana, ia pelajari studi Timur Tengah dan sejarah kerajaan Inggris. Sebelum itu, ia lebih dekat dengan tradisi Kristen. Karena, ia bersekolah di Kodaikanal Internasional School.
Namun, orang tuanya yang seorang pimpinan California-Texas Oil Company (Caltex), membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Bahrain merupakan negara pertama yang ia singgahi. Lalu berlanjut ke India. Di India, Barradine mendalami ajaran Kristen, karena ia bersekolah di sekolah Kristen.
Selesai sekolah, ia merasa tertarik dengan Kristen sehingga ia mendalami ajaran itu dengan memasuki sekolah Notre Dame Internasional School, Roma. “Di kota ini, saya mempelajari lebih lanjut tentang Kristen. Saya belajar dengan uskup secara langsung,” katanya menjelaskan.
Selama di Roma, Barradine begitu terpesona dengan iman Katolik. Ia pun berencana menjadi seorang Imam. Namun, di antara sekian negara tempat yang ia singgahi Bahrain merupakan yang paling berkesan. Di sana ia mendengar panggilan adzan dan melihat Muslim melaksanakan shalat. “Ini membuatku begitu terkesan. Saya suka mendengarnnya,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnyzw7-michael-barradine-panggilan-adzan-membuatku-terkesan
PKSTAKTAKAN | PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
“Hanya dalam Islam, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaanku,” ungkapnya seperti dikutip onislam.net, Senin (6/6).
Perjalanan spiritual Barradine dimulai ketika ia menempuh pendidikan S3 di Universitas Arizona. Di sana, ia pelajari studi Timur Tengah dan sejarah kerajaan Inggris. Sebelum itu, ia lebih dekat dengan tradisi Kristen. Karena, ia bersekolah di Kodaikanal Internasional School.
Namun, orang tuanya yang seorang pimpinan California-Texas Oil Company (Caltex), membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Bahrain merupakan negara pertama yang ia singgahi. Lalu berlanjut ke India. Di India, Barradine mendalami ajaran Kristen, karena ia bersekolah di sekolah Kristen.
Selesai sekolah, ia merasa tertarik dengan Kristen sehingga ia mendalami ajaran itu dengan memasuki sekolah Notre Dame Internasional School, Roma. “Di kota ini, saya mempelajari lebih lanjut tentang Kristen. Saya belajar dengan uskup secara langsung,” katanya menjelaskan.
Selama di Roma, Barradine begitu terpesona dengan iman Katolik. Ia pun berencana menjadi seorang Imam. Namun, di antara sekian negara tempat yang ia singgahi Bahrain merupakan yang paling berkesan. Di sana ia mendengar panggilan adzan dan melihat Muslim melaksanakan shalat. “Ini membuatku begitu terkesan. Saya suka mendengarnnya,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/07/mnyzw7-michael-barradine-panggilan-adzan-membuatku-terkesan



