Kesungguhan dan Semangat yang Tinggi
Kesungguhan itu lawan dari main-main, yaitu sungguh-sungguh
dalam suatu urusan dan memberikan perhatian yang lebih besar dari biasanya
serta bersegera ingin menunaikannya.
Untuk menuju ke sana para aktivis dakwah dituntut memiliki
semangat yang tinggi, memberikan segala kemampuannya, dan tidak boleh ragu-ragu
ataupun berhenti di tengah jalan, atau bermalas-malasan di tengah perjalanan.
Biasanya, ketika meniti perjalanan yang panjang/semangat
para aktivis dakwah melemah, tekad mereka mengendur, dan langkah mereka
melamban. Pada saat itulah amal islami (pergerakan Islam) menjadi lemah dan
berkurang pengikutnya.
Sebagian mereka juga merasakan nikmatnya beristirahat dan
rela dengan hal itu. Mereka merasa berat dengan beban dakwah dan tidak
menyukainya, memperbanyak senda gurau dan tawa canda, serta bersenang-senang
dengan pertemuan yang sepi dari semangat dan kesungguhan.
Mereka juga merasa nyaman dengan tidak ikut serta dalam
kafilah jihad. Mereka tidur lelap dan rela dengan hanya memberi kontribusi yang
sedikit. Mereka menyibukkan diri dengan urusan yang tidak penting dan
melalaikan kewajiban yang sesungguhnya, serta lupa bahwa kewajiban itu lebih
banyak daripada waktu yang tersedia. Mereka rela dengan kontribusi minimal yang
diberikan kepada dakwahnya, dan sudah menganggapnya sebagai kontribusi yang
besar.
Karena itu, harus selalu dipompakan semangat yang tinggi dan
kesungguhan yang benar agar kita mampu menunaikan amanah dan tanggung jawab
kita serta sampai pada tujuan. al-Qur'an telah memuji sekelompok manusia yang
beriman dengan iman yang sesungguhnya. Mereka menyingsingkan lengan baju, dan
bersungguh-sungguh mencari keridhaan dari Allah. Allah Ta'ala berfirman,
“Mereka itu bersegera
untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera
memperolehnya.” (aI-Mu'minun [23] :
61)
Yang harus diingat, ketika berbicara tentang semangat yang
tinggi dan kesungguhan adalah kontribusi dan kesungguhan itu berbanding lurus
dengan kedekatan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits qudsi
Dia berfirman,
“Barangsiapa yang
mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa
yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan,
apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya
dengan berlari.” (HR. Muslim, dalam
kitab at-Taubah, Nomor 2675).
Para pemalas tidak sama dengan orang yang sungguh-sungguh
dan memiliki semangat tinggi.
"Tidaklah sama
antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur
dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat..." (an-Nisa'
[4]: 95)
Orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan kesungguhan
yang tulus, merekalah orang-orang yang berhak mengemban dakwah ini dan
menyampaikannya kepada manusia. Karena itulah, pengemban dakwah yang
sesungguhnya adalah mereka yang menghabiskan umurnya, mengorbankan hartanya,
dan memberikan waktunya untuk kemenangan dakwah.
Asy-Syahid al-Banna mengatakan, “Adalah sebuah kesalahan jika ada yang menyangka bahwa Ikhwanul
Muslimin adalah para da'i yang menyeru manusia kepada kemalasan dan
keterlenaan. Ikhwan selalu menyerukan di setiap kesempatan bahwa seorang Muslim
harus menjadi pelopor dalam segala sesuatu. Ikhwan tidak rela hidup tanpa
qiyadah, tanpa amal, dan tanpa keunggulan dalam segala hal, baik dalam ilmu,
kekuatan, kesehatan, maupun finansial. Sebab, keterbelakangan dalam suatu sisi
dari berbagai sisi yang ada itu akan membahayakan fikrah kami dan bertentangan
dengan ajaran Islam.”
Beliau juga mengatakan, “Sedikit
sekali orang yang tahu ketika salah seorang da'i Ikhwan keluar dari tempat
kerjanya pada hari Kamis sore, lalu pada waktu isya sudah berceramah di
al-Manya. Di hari Jumat ia menyampaikan khotbah di Manfaluth, Jum'at sorenya
berceramah di Asiyuth, dan setelah isya pada hari itu juga sudah berdakwah di
Sauhaj, baru kemudian pulang. Pagi-pagi buta di keesokan harinya, ia sudah
berada di tempat kerjanya di Kairo, bahkan mendahului karyawan lainnya.”
Surat Terbuka untuk
Para Pemalas
Pemalas adalah orang yang tidak beruntung. Ia menghalangi
dirinya dari pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. la terbuai dengan
kenikmatan sementara yang dirasakan dari duduk-duduk dan istirahatnya. la lebih
mengutamakan santai daripada menyiapkan diri untuk kehidupannya yang tersisa.
"Sekali-kali
janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan
meninggalkan (kehidupan) akhirat." (al-Qiyamah [75]: 20-21)
Dia rela dengan kondisi dirinya. Rela dengan ketertinggalan
dan kemalasannya. Seharusnya, dia bisa bangkit lebih tinggi. Sesungguhnya, kita
tidak membutuhkan para pemalas. Kita hanya bisa menasihati dan mendoakan
mereka. Kita ajak mereka untuk berpikir ulang. Mari kita lihat teman-teman dan
saudara-saudara yang telah meninggalkan kita. Barangkali, kita bisa
membangkitkan dan menguatkan kembali semangat mereka.
Kita tidak mungkin bisa mengingkari kematian atau
orang-orang mati yang setiap hari kita antarkan ke liang lahat. Tidak dapat
kita pungkiri bahwa kita kehilangan mereka untuk selamanya. Tidak dapat kita
pungkiri juga bahwa di antara mereka ada yang masih muda dan ada pula yang
sudah tua. Di antara mereka ada bayi-bayi yang tak berdosa dan wanita-wanita
lemah. Di antara mereka ada yang mati dalam keadaan sehat dan ada pula yang
mati karena sakit.
Mati adalah sebuah keniscayaan, mendatangi orang yang sudah
tiba saatnya. Tidak ada yang mengetahui. Bisa jadi, kematian akan merenggut
kita hari ini dan tidak bisa ditunda sampai hari esok. Pada saat itulah, tidak
berguna lagi penyesalan.
"(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata. 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku
berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.'Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya, itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (al-Mu'minun [23]: 99-100)
“Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian
kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, Ya Tuhanku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.”
(al-Munafiqun [63]: 10)
Maka, berbuatlah... dan berbuatlah....
Bersungguh-sungguhlah... dan bersungguh-sungguhlah..., sebelum kedatangan suatu
hari yang tidak berguna lagi bagi seseorang kecuali apa yang sudah ia perbuat.
Semangat yang tinggi dan kesungguhan dalam sebuah aktivitas
dapat memengaruhi derajat surga di antara orang-orang yang beriman.
"Tidaklah sama
antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur
dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (an-Nisa' [4]: 95)
Jangan seperti Mereka
1. Seperti yang
difirmankan oleh Allah,
"Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat
itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Maka, perumpamaannya seperti anjing.
Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu
agar mereka berpikir." (al-A'raf
[7]: 175-176)
2. Orang yang
kepergiannya tidak disukai oleh Allah, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
"Mereka rela
berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang...." (at-Taubah [9]: 87)
Sebabnya adalah hilangnya semangat dan tidak pergi berjihad.
"Dan jika mereka
mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu,
tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan
keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama
orang-orang yang tinggal (tidak pergi berperang) itu.” (at-Taubah [9]: 46)
3. Orang yang
mencintai dunia sehingga mengalahkan akhirat.
"Hai orang-orang
yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah
(untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di
tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di
akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)
di akhirat hanyalah sedikit" (at-Taubah
[9]: 38)
Jadilah Seperti
Orang-orang yang Menepati Janji dan Bersegera Meraih Kebaikan
Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
“Laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati
Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang." (an-Nur [24]: 37)
"Di antara
orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula)yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah
(janjinya)." (al-Ahzab [33]:
23)
"Mereka itu
bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya." (al-Mu'minun
[23]: 61)
Tanda-tanda Kesungguhan
dan Semangat Tinggi
- Bersegera menunaikan shalat, "Bangkitlah untuk shalat
ketika kalian mendengar panggilan shalat, apa pun keadaan kalian."
- Berkomitmen untuk menghadiri semua pertemuan dan disiplin
di dalamnya.
- Merespons dengan cepat instruksi-instruksi mendadak yang
diberikan.
- Bersegera menginfakkan harta untuk kepentingan dakwah.
- Tidak berjalan bersama para pemalas dan orang-orang yang
suka meninggalkan dakwah.
- Menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk
kepentingan umat dan dakwah.
Sumber: Memperbarui Komitmen Dakwah (Muhammad Abduh)
1 Komentar
Write Down Your Responses



4 September 2011 pukul 09.15
saatnya ummat ini bangkit....dan berjihad memenangkan Jazuli-Zakki adalah kemenangan Rakyat